Oleh:
Dr. A. Husnul Hakim IMZI
Disampaikan
pada Kajian Tafsir Bulanan di Masjid Jami’ Al-Ihsan
Sabtu, 20 Oktober 2012
97. Katakanlah:
"Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya
(Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab)
yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang
beriman.
98. Barang siapa yang
menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail,
maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.
§
Sabab nuzul ayat ini adalah
suatu ketika salah seorang tokoh Yahudi duduk-duduk bersama Rasulullah, lalu
dia bertanya kepada beliau, “Siapa Malaikat
yg menurunkan wahyu kepadamu?” Beliau menjawab,
“Jibril”. Mereka menimpali, “Seandainya
yg menurunkan adalah Mikail, pasti kami akan beriman kepadamu. Sebab Jibril-lah yang banyak membuat
kerusakan dengan menurunkan azab.
Sedangkan Mikail pembawa rezeki dan rahmat.” Lalu turunlah ayat ini.
§ Alasan penolakan ini hanya mengada-ada/dibuat-buat saja. Sebab dengan begitu mereka punya alasan untuk menolak kerasulan Nabi
Muhammad, bahkan dengan menyatakan bahwa mereka memusuhi Jibril, sebagai pembawa wahyu, berarti
mereka secara tidak langsung juga memusuhi
beliau dan Al-Qur’an.
§
Padahal, memusuhi malaikat
Jibril pada kakikatnya memusuhi semuanya, termasuk Mikail yang mereka senangi, sebab kedua
malaikat tersebut sama-sama memiliki tempat yang istimewa di sisi Allah. Bahkan, mereka juga memusuhi Allah, sebab
semuanya, baik Allah, para malaikat maupun para rasul adalah sumber kebenaran (al-haqq),
dan yang
namanya al-haqq adalah tunggal. Menolak satu berarti menolak
semuanya.
§
Ayat ini juga menjelaskan tentang fungsi Al-Qur’an,
antara lain, membenarkan kitab-kitab sebelumnya, petunjuk kepada kebenaran, dan
kabar gembira bagi kaum mukminin.
§
Term mukminin berarti
orang Islam yang imannya sudah
mantap. Dengan demikian, bisa dipahami
bahwa Al-Qur’an akan memberi manfaat secara efektif, baik sebagai petunjuk dan kabar
gembira bagi mukmin yang imannya sudah
mantap, dan tidak ragu sedikit pun bahwa al-Qur’an akan membawanya kepada keselamatan
dunia-akhirat
99. Dan sesungguhnya Kami
telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar
kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik.
100. Patutkah (mereka
ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji,
segolongan mereka melemparkannya? Bahkan sebagian besar dari mereka tidak
beriman.
101. Dan setelah datang
kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang
ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat)
melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak
mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah).
•
Ayat ini kembali
menginformasikan kebiasaan buruk Yahudi sejak zaman dahulu, yaitu mendustakan
ayat-ayat Allah dan para rasul, berpaling dari Al-Qur’an, dan khianat/
mengingkari janji. Karena itu, ayat ini
menjadi penghibur bagi Rasulullah dakwahnya selalu ditentang oleh mereka.
•
Sekaligus ayat ini juga menghibur kita
jika nasehat-nasehat kebenaran yang kita sampaikan tidak
digubris. Itu hal yang biasa, sebab
sikap penolakan terhadap kebenaran bukan hanya
terjadi saat ini, tetapi sudah sejak lama, sebagaimana yang dialami oleh para nabi
dan rasul.
•
Kebenaran kerasulan Nabi
Muhammad saw dan al-Qur’an sudah sangat jelas, tetapi bagi orang-orang yang
fasik tetap saja tidak
mau menerimanya.
•
Mereka sesungguhnya tahu bahwa hal itu benar –dalam konteks ini adalah tentang sifat-sifat Rasulullah dan keberadaan beliau sebagai Rasul terakhir– namun secara sengaja mereka buang karena tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsunya.
•
Ada beberapa sikap buruk Yahudi yang diungkap ayat ini:
-
Mendustakan ayat-ayat Allah dan bukti-bukti tentang adanya Allah dan tauhidullah
(keesaan Allah)
-
Tidak bisa dipercaya dalam segala hal.
-
Mereka telah bergelimang dalam kesesatan yang sangat jauh
sehingga tidak mungkin diharapkan keimanannya.
-
Mereka tidak membuang semua kebenaran yang ada dalam Taurat, tetapi hanya yang menyangkut
Rasulullah saw, baik sifatnya maupun keberadaan beliau sebagai Rasul terakhir
RANGKUMAN
•
Mentalitas kaum Yahudi yang
buruk tersebut merupakan produk dari motivasi dan orientasi duniawi. Siapapun akan melakukan hal yang sama sebagaimana Yahudi, jika ia bermental yang sama dengan mereka, yakni orientasi
duniawi.
•
Kebenaran hakikatnya satu, dan
akan diditipkan kepada siapa yang Dia kehendaki, makanya
ia bisa datang dari mana saja atau dari
siapa saja. Kebenaran akan terhalangi dari diri seseorang jika ia memiliki rasa
kebencian kepada yang membawa kebenaran.
Sebagaimana kebencian Yahudi kepada Rasulullah karena didasarkan atas
kedengkian.
•
Tugas seorang rasul --termasuk
para penerusnya– hanyalah “menyampaikan”. Bahwa ada yang menerima, menolak atau bahkan menentangnya itu
sudah hal biasa, yang juga dialami oleh
rasul terdahulu, makanya
tidak perlu marah dan emosi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar