Dalam Al-Qur’an banyak sekali kisah-kisah umat terdahulu yang
dapat kita ambil ‘ibroh/pelajaran darinya, ada kisah umat yang ta’at pada Allah
& Rasul-Nya, yang seperti ini patut dicontoh, ada juga kisah umat yang
durhaka/membangkang pada Allah Rasul-Nya, dan yang ini jangan sampai kita
mengikuti jejak langkah mereka. Diantara
kisah positif yang dapat kita berguru padanya adalah apa yang terjadi pada Nabi
Zakaria AS.
Dalam surat Al-Anbiyaa (21) ayat 89-90 Allah SWT berfirman
yang artinya :
89. Dan
(ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: "Ya Tuhanku
janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang
Paling Baik.
90. Maka Kami
memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan
isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu
bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa
kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu'
kepada Kami.
Pelajaran dari
ayat ini adalah bahwa seorang Nabi (utusan Allah) tidak serta merta
kehidupannya dimudahkan oleh Allah SWT, dipenuhi semua keinginannya dengan
mudah, justru sebaliknya merekalah orang-orang yang banyak sekali diberi ujian
dan cobaan oleh Allah SWT. Diantara cobaan pada Nabi Zakaria AS yaitu sampai
usia senja nya, menurut riwayat dari Ibnu Abbbas beliau ber-usia 100 tahun
sementara istrinya 99 tahun, belum dikarunia anak yang akan mewarisi atau
meneruskan dakwahnya, gelisah lah beliau, namun beliau tidak putus-putusnya
berdo’a memohon pada Allah SWT,yang pada akhirnya Allah pun mengabulkan permohonannya
dengan memberinya seorang anak yang dinamakan Yahya, kelak Yahya pun diangkat
menjadi nabi.
Dari ayat 90
surat Al-Anbiyaa, setidak nya ada 3 hal yang senantiasa dilakukan oleh Nabi
Zakaria dan orang-orang soleh sehingga menjadi salah satu penyebab
dikabulkannya do’a mereka, dan ketiga hal tersebut bisa juga kita tiru agar apa
yang menjadi hajat kita dikabulkan oleh Allah SWT, ketiga hal tersebut adalah :
1.
Segera melakukan kebaikan, artinya tidak ada kamus penundaan
untuk perbuatan baik, contoh ketika sudah berkumandang adzan langsung dirikan
sholat, ketika ada rizki yang berlebih segera sisihkan untuk shodaqoh, ketika
sudah mampu untuk pergi haji segera daftarkan diri untuk berangkat haji, tidak
perlu pertimbangan macam-macam, laksanakan, sebab begitu perbuatan baik
ditunda-tunda maka setan akan bermain di dalamnya dan ujung-ujungnya adalah
kita tidak jadi melaksanakannya.
2.
Do’a pada Allah dengan penuh harap
& cemas. Do’a
semacam ini butuh penghayatan, dan penghayatan butuh pemahaman atas apa yang
dipanjatkan. Seringnya orang berdo’a hanya di lisannya saja tidak sampai ke
hati, atau saat berdo’a pikiran kemana-mana, do’a yang seperti ini do’a yang
tidak akan diijabahi oleh Allah SWT, sebagaimana sabda Rasul SAW : Sesungguhnya
Allah tidak akan mengijabahi do’a yang berasal dari hati yang lalai (HR
Attirmidzi). Agar do’a kita bisa dipanjatkan penuh dengan harap & cemas sudah
seharusnya kita mulai mempelajari arti dan makna dari do’a yang selama ini kita
panjatkan.
3.
Senantiasa bersikap khusyu’ dihadapan
Allah SWT. Maksudnya adalah senantiasa merendahkan diri
di hadapan Allah SWT, bahwa Allah lah yang menentukan hidup mati kita , Allah
lah yang menentukan sukses atau tidaknya kita, dan seterusnya, ada
keterbergantungan yang besar pada Allah atas segala hal. Dengan sikap ini kita
tidak kufur (ingkar/lupa) ketika mendapat nikmat dan tidak berputus asa ketika
mendapat musibah.
Demikian, semoga bermanfa’at.
Materi Kultum Dzuhur 7 Januari
2014 Di Masjid Jami’ Al-Ihsan