Home

Senin, 20 Januari 2014

BERGURU PADA NABI ZAKARIA AS


Dalam Al-Qur’an banyak sekali kisah-kisah umat terdahulu yang dapat kita ambil ‘ibroh/pelajaran darinya, ada kisah umat yang ta’at pada Allah & Rasul-Nya, yang seperti ini patut dicontoh, ada juga kisah umat yang durhaka/membangkang pada Allah Rasul-Nya, dan yang ini jangan sampai kita mengikuti  jejak langkah mereka. Diantara kisah positif yang dapat kita berguru padanya adalah apa yang terjadi pada Nabi Zakaria AS.

Dalam surat Al-Anbiyaa (21) ayat 89-90 Allah SWT berfirman yang artinya :
89. Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.
90. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami.

Pelajaran dari ayat ini adalah bahwa seorang Nabi (utusan Allah) tidak serta merta kehidupannya dimudahkan oleh Allah SWT, dipenuhi semua keinginannya dengan mudah, justru sebaliknya merekalah orang-orang yang banyak sekali diberi ujian dan cobaan oleh Allah SWT. Diantara cobaan pada Nabi Zakaria AS yaitu sampai usia senja nya, menurut riwayat dari Ibnu Abbbas beliau ber-usia 100 tahun sementara istrinya 99 tahun, belum dikarunia anak yang akan mewarisi atau meneruskan dakwahnya, gelisah lah beliau, namun beliau tidak putus-putusnya berdo’a memohon pada Allah SWT,yang pada akhirnya Allah pun mengabulkan permohonannya dengan memberinya seorang anak yang dinamakan Yahya, kelak Yahya pun diangkat menjadi nabi.

Dari ayat 90 surat Al-Anbiyaa, setidak nya ada 3 hal yang senantiasa dilakukan oleh Nabi Zakaria dan orang-orang soleh sehingga menjadi salah satu penyebab dikabulkannya do’a mereka, dan ketiga hal tersebut bisa juga kita tiru agar apa yang menjadi hajat kita dikabulkan oleh Allah SWT, ketiga hal tersebut adalah :

1.      Segera melakukan kebaikan, artinya tidak ada kamus penundaan untuk perbuatan baik, contoh ketika sudah berkumandang adzan langsung dirikan sholat, ketika ada rizki yang berlebih segera sisihkan untuk shodaqoh, ketika sudah mampu untuk pergi haji segera daftarkan diri untuk berangkat haji, tidak perlu pertimbangan macam-macam, laksanakan, sebab begitu perbuatan baik ditunda-tunda maka setan akan bermain di dalamnya dan ujung-ujungnya adalah kita tidak jadi melaksanakannya.

2.      Do’a pada Allah dengan penuh harap & cemas. Do’a semacam ini butuh penghayatan, dan penghayatan butuh pemahaman atas apa yang dipanjatkan. Seringnya orang berdo’a hanya di lisannya saja tidak sampai ke hati, atau saat berdo’a pikiran kemana-mana, do’a yang seperti ini do’a yang tidak akan diijabahi oleh Allah SWT, sebagaimana sabda Rasul SAW : Sesungguhnya Allah tidak akan mengijabahi do’a yang berasal dari hati yang lalai (HR Attirmidzi). Agar do’a kita bisa dipanjatkan penuh dengan harap & cemas sudah seharusnya kita mulai mempelajari arti dan makna dari do’a yang selama ini kita panjatkan.


3.      Senantiasa bersikap khusyu’ dihadapan Allah SWT.  Maksudnya adalah senantiasa merendahkan diri di hadapan Allah SWT, bahwa Allah lah yang menentukan hidup mati kita , Allah lah yang menentukan sukses atau tidaknya kita, dan seterusnya, ada keterbergantungan yang besar pada Allah atas segala hal. Dengan sikap ini kita tidak kufur (ingkar/lupa) ketika mendapat nikmat dan tidak berputus asa ketika mendapat musibah.

Demikian, semoga bermanfa’at.

Materi Kultum Dzuhur  7 Januari  2014 Di Masjid Jami’ Al-Ihsan

(Zulkarnain AH)