Rasulullah SAW sering memberikan nasehat kepada para sahabatnya, nasehat Rasul pada sahabatnya berlaku pula untuk kita ummatnya, diantara nasehatnya adalah yang disampaikan kepada Abu Dzarr Al-Ghifari, terdapat pada Kitab Nashoihul Ibadkarangan Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jaawi yang merupakan syarah (penjelasan) dari kitab Al-Munabbihat ‘alal isti’daadil yaumil Mii’aad karangan Ibnu Hajar Al-Asqolani, disebutkan Rasul SAW memberikan 4 (empat) nasehat:
1. Perbaharuilah perahu karena lautan itu sangat dalam. Ini adalah kalimat ungkapan yang maksudnya adalah perbaguslah niat dalam segala hal, dengan niat yang bagus/baik maka akan didapatkan pahala dan akan terhindar dari siksa AllahSWT, sebaliknya jika kita salah pasang niat maka bukan pahala yang di dapat malah murka Allah SWT. Pondasi amal kita adalah niat, kalau pondasinya salah maka bangunan amalnya pun akan rusak. Berkaitan dengan ini Umar bin Khottob ra saat menjadi kholifah (pimpinan) pernah menulis surat pada gubernur mesir saat itu yakni Abu Musa Al-Asy’ari , isinya : siapa yang ikhlas niatnya maka Allah akan cukupkan segala urusan antara orang tersebut dengan orang lain. Diriwayatkan pula Salim bin Abdullah bin Umar bin Khottob menulis surat pada Umar bin Abdul Aziz : Ketahuilah ya Umar sesungguhnya pertolongan Allah pada hamba-Nya seukur dengan niat orang tersebut, siapa yang ikhlas niatnya maka sempurna pertolongan Allah padanya, dan siapa yang berkurang niatnya (ada unsur lain) maka berkurang pula pertolongan Allah padanya.
2. Ambillah/carilah bekal yang sempurna dikarenakan perjalanan sangat jauh. Ketika akan melakukan perjalanan jauh, keluar kota atau luar negeri misalkan, pastinya kita akan menyiapkan segala sesuatunya agar perjalanan yang akan ditempuh nyaman sampai tujuan, begitu pula perjalanan menuju akherat adalah perjalanan yang sangat panjang dan melalui beberapa tahapan, diawali dengan alam qubur sampai kelak di Hisab (dihitung/diperiksa) semua perbuatan kita dan ujungnya atau tujuan akhirnya surga atau neraka, karena itu dibutuhkan bekal amal soleh yang banyak dan berkualitas agar perjalanan menuju akherat menjadi nyaman dan menyelamatkan.
3. Ringankanlah beban karena urusan dikemudian hari akan menyulitkan. Beban disini yang dimaksud adalah hal-hal yang bersifat keduniawian, berkaitan dengan ini ada sebuah hadits yang berasal dari Anas bin Malik bahwa suatu hari Rasulullah sambil memegang tangan Abu Dzarr dan berkata : wahai Abu Dzarr tahukah kamu bahwa suatu saat nanti ada rintangan yang amat sulit diatasi,yang tidak akan bisa melewatinya kecuali orang-orang yang ringan, kemudian sesorang berkata pada Rasul, Ya Rasul apakah aku termasuk golongan orang-orang yang ringan atau golongan orang-orang yang berat? Rasul berkata: apakah kamu memiliki makanan untuk hari ini? Orang itu menjawab Ya, kemudianRasul kembali bertanya : apakah kamu memiliki makanan untuk hari esok? Jawab orang itu Ya, Rasul bertanya lagi : apakah kamu memiliki makanan untuk hari lusa? Jawab orang itu Tidak, Rasul lalu bersabda : Jika engkau memiliki makanan untuk 3 hari, maka kamu termasuk dalam golongan orang-orang yang berat.
4. Ikhlas-lah beramal, karena yang meneliti (memperhatikan) amal kita adalah Dzat yang Maha Melihat (Allah SWT). Ikhlas adalah amalan hati yang tak kelihatan oleh mata, mungkin kita bisa menipu orang dengan mengatakan bahwa apa yang dilakukan ikhlas walaupun mungkin di dalam hati ada pamrih-pamrih lain selain karena Allah, namun Allah SWT tidak bisa ditipu. Karena itu kita harus senantiasa membebaskan amal-amal kita dari penyakit Riya (pamer), Sum’ah(ingin didengar) dan yang lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar